Event, Ulasan Religi

Tang Che / Tang Cik

Tang Che adalah perayaan dalam bulan kesebelas. Orang pandai bijaksana mengatakan, bahwa maksudnya mula-mula ialah sebagai perayaan memungut hasil, tanda terima kasih atas hasil yang diperoleh selama setahun yang silam.

Dahulu kala dibuatlah dua belas buah onde-onde yang terbuat dari tepung beras dan diletakkan di atas penampi disusun membentuk lingkaran. Maksudnya untuk menyatakan bahwa setahun itu 12 bulan. Di tengah-tengahnya diletakkan onde-onde yang paling besar, menggambarkan seluruh hasil yang didapat dalam tahun itu.

Onde-onde itu dikukus sampai masak dan dimakan dengan air manisan jahe.

Di Indonesia ada juga hikayat mengenai Tang Che ini, tetapi tidak ada hubungannya dengan perayaan memungut hasil. Ceritanya demikian:

Dahulu kala hidup seorang laki-laki yang tegap tubuhnya. Ia hidup bersama ibunya yang telah menjadi janda.

Pemuda itu bekerja pada seorang tabib. Sehari-harinya pergi ke pegunungan mencari akar-akaran dan daun-daunan untuk dijadikan obat. Karena telah bekerja selama bertahun-tahun, ia mengetahui seluk beluk jalanan di pegunungan.

Pada suatu hari, tidak seperti biasa, sampai larut malam dia belum juga pulang. Sang ibu menantinya dengan penuh kecemasan, semalam suntuk tidak tidur. Tapi kenyataannya, sampai keesokan harinya sang anak belum pulang juga.

Sang ibu dan majikan mencarinya dengan menempuh jalan yang berbeda.

Malam harinya, sang ibu kembali tanpa hasil, membuatnya duduk lesu.

Belum lama ia duduk, tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu.

Wanita setengah baya itu membukakan pintu. Terlihat olehnya sang tabib membawa anaknya yang hilang itu.

Sang ibu menjerit sedih, dikira anaknya telah meninggal. Padahal tidaklah demikian.

Perlahan-lahan sang tabib meletakkan tubuh pemuda itu di atas pembaringan dan memeriksa denyut nadinya. Ternyata jalan darahnya masih normal. Sang tabib membuat obat dan meminumkannya pada pemuda itu. Tak lama kemudian, wajah pemuda itu kembali bersemu merah, tetapi matanya masih terpejam.

Ketika memeriksa, sang tabib mengatakan bahwa mata pemuda itu buta.

Kembali sang janda setengah baya itu menjerit sedih, sebab tak ada yang lebih disayangi selain anaknya itu.

Setelah siuman dari pingsannya, pemuda itu menceritakan, bahwa ia telah menginjak kaki setan ketika mencari bahan-bahan obat. Hantu itu marah, langsung menghembus matanya hingga menjadi buta. Akibatnya ia tak tahu lagi jalan pulang.

Tabib hanya mengeleng-gelengkan kepala. Tak mudah baginya untuk mengobati penyakit yang ditimbulkan oleh hantu. Ia pamit pada ibu dan anak itu, bermaksud mencari seorang pendeta yang dapat mengusir pewngaruh hantu dengan mantranya.

Namun setelah lama menunggu, sang tabib belum juga kembali.

Sang ibu berlutut di muka anaknya sambil menangis.

“Sungguh malang nasibmu, nak”, katanya. “Kalau sekiranya aku dapat menolongmu, lebih baik aku yang buta daripada menyaksikan keadaanmu seperti ini.”

Anaknya terus berbaring dan terus memejamkan mata tanpa berkata. Ia tak berani membuka mata dihadaoan ibunya, sebab ibunya takkan sanggup menyaksikan keadaannya yang  demikian.

Sang tabib belum juga kembali, sebab ia tak berhasil menemui pendeta yang sanggup mengobati sakit si pemuda. Hal itu telah membuat sang ibu mngambil sebuah keputusan.

Dibelahnya mata anaknya, mengeluarkan kedua biji mata yang telah rusak itu dan memasukkannya dengan matanya sendiri sebagai penggantinya.

Dalam sekejap si pemud atelah dapat melihat ibunya kembali, tapi mata ibunya telah kosong. Dilihatnya luka sang ibu masih berdarah. Ia sangat terkejut menyaksikan pengorbanan sang ibu.

Akan tetapi si ibu malah tersenyum dan mengusap-ngusap rambut anaknya.

“Tak apa-apa, nak”, ucapnya, “pergilah kau ke dapur, barangkali masih ada nasi. Buatlah dua bola, supaya dapat kumasukkan ke dalam lobang mataku”.

Si pemuda heran mendengar ucapan ibunya, tapi dia patuh, membuat dua buah bola nasi dan menyerahkan pada ibunya.

Sang ibu memasukkan bola nasi tersebut ke dalam lobang matanya. Darah yang masih segar bercampur dengan bola nasi tersebut.

Seketika terjadi suatu keajaiban, bola-bola itu berubah menjadi mata yang dapat melihat dan tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Ibu dan anak segera sujud menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan puji syukur atas kejadian yang luar biasa itu.

Setiap yahun pada hari itu mereka membuat bola-bola nasi yang diberi warna merah untuk memperingati hari yang bersejarah itu.

Orang-orang yang lain pun berbuat demikian.

Seiring dengan berjalannya waktu, bola-bola nasi itu dibuat dari beras ketan, diberi warna merah atau dibiarkan saja putih, bahkan ada yang memberi warna hijau. Disajikan dengan air gula.

1 thought on “Tang Che / Tang Cik

Leave a Reply to wenmiao Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *