Diatas 5 benua ini, Negara yang peradabannya terdahulu berkembang adalah Tiongkok, diantara sekian banyak kelompok orang-orang arif yang berkumpul di negeri Tiongkok, yang paling berhasil pengabdiannya adalah sang guru agung dari Nisan.
Beliau lahir pada jaman dinasti ZHOU, sementara hidupnya pada masa itu ajaranĀ beliau masih belum berjalan sebagaimana mestinya, namun baru berjalan dengan baik pada zaman kemudian. Ajarannya tidak hanya terbatas berkembang luas di kawasan bangsa Tionghoa saja, di Negara-negara barat pun juga sangat di kagumi. Diyakini bahwa bilamana ajaran beliau dipelajari dengan sungguh-sungguh serta dapat benar-benar dijalankan secara aktual dalam satu sistem pemerintah Negara, akan dapat mencapai sebagai satu Negara kuat dan makmur kelas wahid. Tetapi mereka tidak cukup memahami bahwa ajaran-ajaran Nabi Kong Zi tidak terbatas sampai pada tujuan itu saja. Pada dasarnya filsafat ajaran Nabi Kong Zi berpotensi mempersatukan dunia dalam kesetaraan keadilan bagi semuanya, dan sama sekali tidak membedakan dipergunakan untuk Negara-negara besar maupun Negara-negara sekecil apapun, semuanya bisa mencapai tujuan menjadi Negara yang makmur dan sentosa.
Sementara dikalangan Huaqiao (Hwa Kiao) di kota Surabaya banyak yang merasa malu kalau tidak belajar bahasa Tionghoa, lalu berusaha keras membangun sekolah untuk digunakan sebagai tempat mengajar, jauh dekat ramai-ramai saling mencontoh, mencuar subur di seluruh pulau Jawa. Cara penyebaran pendidikannya serta pemilihan mutu gurunya dilakukan secara sungguh-sungguh dan pengelolaanya diperhatikan secara cermat.
Yang merisaukan justru keberadaan bangunan klenteng BOEN BIO di kawasan Kapasan diatas persil yang amat kecil terpencil didalam gang yang sempit dan tampak depannya terhalang oleh himpitan bangunan rumah penduduk di sekitarnya, sehingga tak terlihat dari jalan besar. Situasi bangunan semacam ini sungguh tidak cukup representatif untuk menampilkan suatu rasa penghormatan tertinggi kita kepada Nabi besar Kong Zi.
Menyaksikan kondisi klenteng BOEN BIO yang terpurukĀ dalam situasi yang kurang layak ini, kemudian timbul gagasan untuk memperluas serta membangun baru bangunan lama yang dahulu diprakarsai oleh Tuan Go dan Tuan Lo c.s dan telah dibangun pada awal tahun takhta Kaisar Kuangshu (1875) ini. Dalam hal ini semua juga setuju untuk memohon sumbangan tanah untuk perluasan bangunan klenteng kepada Tuan Kapten Thai Hing sebagai alih waris pemilik tanah Tuan Mayor The Tik Thai. Sebagaimana telah diduga sebelumnya, Tuan Kapten The Thai Hing pun juga sebagai pemuja Nabi Kong Zi, maka satu sama lain memiliki suasana hati yang sama, sehingga dengan senang hati Tuan Kapten segera menyanggupi memberikan sumbangan tanah yang dibutuhkan. Kemudian dengan murah hati beliau selain menyumbangkan enam petak rumah, juga menyumbangkan uang tunai untuk biaya pembangunan sebesar 1.000 gulden.
Memang tak sedikit orang yang mengabdikan diri pada usaha-usaha sosial yang gigih memprakarsai dan menghimbau masyarakat untuk ikut bersama menyumbangkan dana, akan tetapi orang seperti Tuan The Kio Tjoe ini, pada zaman sekarang benar-benar amat jarang ada. Setelah mendapatkan kepastian ini, langkah lebih lanjut lalu di-ikuti dengan mengumpulkan para hartawan untuk menggalang dana dan segera mulai melaksanakan pembangunan fisiknya : membuat denah, menentukan pondasi, mengukur, menyusun, mengampak, menggeraji, memplester, mengaci, melabur, memeni, mengecat dan lain-lain. Bangunan baru selesai setelah bekerja penuh dalam waktu sekitar 6 bulan.
